Dari Pecel Nganjuk hingga UNY

0
65

Tahun 2006, tepatnya di tanggal 18 Mei aku putuskan untuk mondok di Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asyári. Tiba di pondok disambut hangat oleh pengasuh, KH. Zainal Arifin Thoha yang akrab disapa Gus Zainal.

Bercerita ke sana ke mari membuat mata Gus Zainal berkaca-kaca. Hal ini lantaran ceritaku yang dianggap unik dan penuh perjuangan. Untuk sampai Yogyakarta, aku nebeng alias ngangandol truk dari Madura tujuan Yogyakarta dengan hanya bermodal 150.000 dan 3 bungkus rokok Dji Sam Soe pemberian orang tua. Perjalanan ditempuh selama 3 hari.

Seminggu di pondok, pas di tanggal 27 Mei 2006 terjadilah gempa bumi yang dahsyat hingga ‘meluluh lantahkan’ Yogyakarta.  Bukan hanya bangunan, tapi hati juga mental sebagian orang, termasuk aku. Anak dusun yang ingin kuliah, tiba-tiba diisukan bahwa pulau Jawa akan terbelah jadi dua lantaran gempa bumi dan Gunung Merapi. Bisa dibayangkan. Tak ada harapan lagi. Bumi akan memenuhi janjinya pada Sang Pencipta.

Satu hari hingga tiga hari berselang kegalauan itu terus menyeruak bak teror dalam pikiran. Pulang. Pulang. Pulang. Hanya kata itu yang muncul sebagai pelampiasan menenangkan hati. Yogyakarta seperti kota mati.

Tiba-tiba Gus Zainal memanggilku.

“Malam ini kamu berangkat ke Lirboyo jualan buku,” perintahnya.

Senang bercabur rasa gengsi yang sangat besar. Maklum. Anak dusun sepertiku waktu itu dipehuni dengan “kotoran” gengsi.

“Jualan buku?” tanyaku dalam hati.

“Baik Gus,” jawabku penuh keraguan.

Aku langsung bergegas kenyiapkan buku-buku dimasukkan dalam kardus tanpa bantahan. Kurang lebih 8 kardus besar dimasukkan ke mobil Kijang tua punya Gus Zainal.

Jalanan masih sunyi. Aku diantar ke terminal Giwangan kurang lebih jam 9 malam. Tiba di Terminal Nganjuk jam 2 dini hari. Kami berdua. Istirahat sejenak sambil menikmati Pecel terminal yang enak. Lalu kami lanjutkan perjalanan. Sebelum subuh kami sudah sampai di Lirboyo. Kami pun tertidur.

Pagi jam 7 perkiraan kami, Gus Zainal membangunkan kami sambil bilang, “Enak ya makan Pecel di terminal.” Setengah sadar dan tak sadar kami langsung bergegas mencari mushollah. Perasaan kami dihantui ketakutan dan rasa tidak percaya. Tak ada diskusi. Tak ada sanggahan. Kamipun langsung ke lokasi stand buku lagi. Tapi Gus Zainal sudah tak ada.

Baru pada siang hari, Gus Zainal muncul tergopoh-gopoh. Lalu memperkenalkan kami dengan kawan lamanya yang kebetulan juga jualan buku dan masih sederetan stand dengan kami.

Tak ada diskusi soal “enaknya pecel terminal”.

Pada malam hari di akhir puncak acara. Gus Zainal memperkenalkan kami dengan salah satu pengasuh pondok Lirboyo. Kira-kira seperti ini beliau memperkenalkan kami.

“Kiai, ini dua anak Madura mau kuliah tapi tidak punya biaya. Mohon doanya,” kata Gus Zainal sembari menadahkan tangan karena sang Kiai langsung berdoa sambil berdiri. Selesai. Salaman. Sudah. Suasana kembali disibukkan dengan jual beli.

Usai acara, kami langsung balik pulang. Di pertengahan jalan antara Kediri dan Nganjuk kami dikagetkan tas berisi uang jualan tertinggal di stand. “Khafi turun balik lagi ke Lirboyo ya! Kami tunggu di terminal Nganjuk,” perintah Gus Zainal.

“Baik Gus,” sautku tanpa sanggahan.

Hati berdebar-debar. Tas dalam uang hasil penjualan kurang lebih 18jt. Nominal yang tak sedikit. Alhamdulillah. Tas itu masih aman ada di bawah koran bekas sementara stand sudah dibongkar. Pikirku sudah ada yang menemukan.

Hingga akhirnya kami bertiga tiba di Yogyakarta. Gus Zainal kembali memanggil kami berdua. “Ini untuk kalian daftar kuliah,” katanya sambil menyodorkan uang.

Kembali kami tertegun. Antara percaya dan tidak. Pendaftaran akan ditutup keesokan hari. Dan akhirnya kami kuliah.

 

…..***…..

 

Pada suatu waktu. Di hari dimana saya sendirian di pondok. Gus Zainal tetiba ngajak. Saya langsung mengiyakan tanpa penolakan. Kami naik motor Honda Supra Fit sambil bawa satu kardus buku. Ternyata beliau mau mengisi acara Pelatihan Kepenulisan di aula masjid Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

“Kamu tunggu di sini ya!”

Persis di depan pintu aula. Aku bingung. Mau gelaran buku takut dimarahi karena tidak ada perintah. Bismillah. Sebagian buku aku gelar. Walaupun hingga akhir acara tak satupun buku-buku laku.

“Ayo kita pulang!”

Segera aku beresi buku-buku ke dalam kardus.

Di depan pintu gerbang utama UNY Gus Zainal berhenti dan memesan dua Es. Sambil menunggu pesanan. Gus Zainal berbisik. “Mau tahu bedanya pengemis dan malaikat?”

Aku masih terheran-heran dengan rasa percaya dan tidak percaya. Tapi kembali apa yang terjadi di Kediri jadi petunjuk untuk mempercayainya.

“Coba kamu lihat ya. Jika dia menoleh ke sini berarti dia malikat.”

Sambil komat kamit. Sepertinya beliau membaca fatihah dan doa-doa yang tidak begitu terang aku dengar. Alhasil, yang Gus Zainal maksud menoleh dengan senyuman malu-malu. Lalu, Gus Zainal buru-buru bayar Es. Kita menghampiri orang yang dimaksud dengan menyodorkan uang. Aneh. Jika pengemis biasanya jika ada yang menyodorkan uang atau apapun langsung disergap. Ini beda. Dengan sedikit memaksa Gus Zainal menyodorkan untuk diambil.

“Sudah tahu bedanya?” tanya Gus Zainal sambil mengendarai motornya ke arah pulang. Aku masih diam saja terheran-heran.

“Dia malaikat yang berwujud pengemis. Bedanya sederhana. Jika malaikat pasti malu dan seakan enggan mengambil memberian kita. Jika pengemis sebaliknya,” kata Gus Zainal sambil cerita banyak hal.

Oh iya. Ada yang terlupa. Pada waktu menunggu Es pesanan kami tersaji. Gus Zainal membagi honor hasil ngisi pelatihan penulisan. Gus Zainal bilang. “Ini kita bagi dua ya,” katanya sambil menyodorkan amplop padaku.

Dari hari-hari itulah. Aku mulai takut untuk melakukan ‘hal-hal yang tidak wajar’ di luar pondok karena kami yakin Gus Zainal memiliki ‘radar’ pemantau. Sebuah keistimewaan yang jarang manusia miliki.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini