Sumpah Pocong

4
115
Ilustrasi: Gambar Istimewa

Tak ada yang bisa menggambarkan hati dan jiwa ini ketika mengingat peristiwa itu. Kaki dan tanganku beku. Mulutku tersumbat. Mataku enggan bertatap. Alisku berjejer memagar segala penjuru, membentengi segala kemungkinan hingga tak ada satupun yang mampu menembusnya. Angin seolah tunduk pada kelebat orang-orang yang berlalu lalang.

Pohon-pohon hanya diam. Bertapa pada pertapaannya sendiri. Berdiri pada pendiriannya sendiri. Tak ada kercit dahan-dahan. Pun tak ada kertap-kertap daun-daun. Segalanya hanya sibuk dengan diri dan pikirannya sendiri. Aku tak dapat membayangkan akan kota dan hutan di setiap kepala pada hari sebelum peristiwa itu. Tapi aku tetap tak mau peduli tentang apa pun segala yang ada pada kota-kota dan hutan-hutan di kepala itu. Mungkin ini tidak adil.

Bahkan kelembah kupu-kupu dan harum bunga setaman tak akan manpu menebus kegaduhan yang menimpa keduanya. Tidak hanya malu tapi akan menjadi sejarah seumur hidup bahkan sampai pada anak cucunya. Ya, jika orang bilang peristiwa itu akan menyejarah sampai tujuh turunan.

***

Sementara sholat jumat belum dimulai. Hati ini semakin menggaduh. Tidak hanya takut. Semua bercampur jadi air mata yang tak bisa mengalir. Hanya berlinangan dan membanjiri kedalaman kelopak mataku. Kesedihan yang tak juga buat suasana menjadi cemberut. Hanya senyum kosong yang ada. Entah apalah arti semua simbol-simbol itu tapi yang jelas peristiwa yang akan meyejarah akan segera dimulai.

Kemudian terdengar juga apa yang dinanti-nanti; “Asslamu’alaikum Wr. Wb. Kepada keluruh jamaah jumat dan masyarakat kampung Battangan diberitahukan bahwa setelah sholat jumat akan diadakan “sumpah pocong” yang akan dilakukan oleh Bapak Mistar dan Bu Naimah sebagai penebusan atas apa yang telah dituduhkan oleh yang mengatasnamakan “masyarakat”, yaitu tentang tuduhan sebagai tukang santet, untuk itu diharap seluruh masyarakat bisa menjadi saksi atas sumpah tersebut. Sekian dan terimakasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.”

Hati seketika kembali sunyi setelah mendengar pengumuman itu. Hanya debaran jantung yang tak kepalang tak teratur detupnya masih mengimbangi kesunyian menjadi gaduh yang sangat lembut karena hanya pribadi yang merasakannya.

Aku hanya tidak bisa membayangkan apa yang ada di hati Bapak Mistar dan Bu Naimah. Aku tak tahan berpikir dan akhirnya aku memilih untuk segera berangkat ke masjid untuk menunaikan sholat jumat.

Dan sesampainya di masjid, mata-mata jemaah sholat jumat terpejam seolah terhipnotis oleh bacaan-bacaan bilal. Aku semakin tidak karuan ketika melihat sang bilal karena ternyata Pak Mistar adalah seorang bilal. Menjadi tanda tanya besar di hati ini, tapi tetap aku tidak bisa khusuk mengikuti proses sholat jumat. Hatiku berdebar dan tetap tak pecaya bahwa segala tuduhan itu benar. Di luar masjid sudah banyak orang menunggu sumpah itu. Kebetulan memang sholat jumat di tempatku termasuk yang agak telat dari sekian masjid-masjid. Hatiku semakin sesak. Dan bertanya-tanya selalu apa yang akan terjadi setelah ini. Mata-mata membelingar kesana kemari orang-orang yang berdatangan.

***

Suasana mulai tambah sesak. Halaman masjid yang terhampar seolah-olah mengkerut. Sholat jumat telah selesai ditunaikan. Aku langsung melompat dan segera berlari mendekat ke kerumunan orang, ternyata dalam kerumunan itu aku melihat Bu Naimah dengan baju yang rapi, wajah berseri-seri didampingi oleh anak laki-laki dan keponakanya yang juga terlihat tegar seolah tak ada rasa takut dan kehawatiran. Sementara di sekelilingnya, aku melihat mata-mata memerah dan air mata yang berjatuhan.

Siang itu matahari tak berkedip melihat peristiwa itu. Tapi aku tak dapat merasakan tusukan matahari pada tubuhku. Sebaliknya, justeru aku merasakan himpitan dingin yang menyekap tubuh hingga tak dapat bergerak. Mataku saja yang bisa berkeliaran menatap tubuh-tubuh penuh dendam, kebengisan, tawa, dan segala yang ada di dunia sepanjang malaikat dan setan masih ada.

Loudspeaker kembali mengheningkan suasana. “Hadirin jamaah sholat jumat dan undangan yang saya hormati, prosesi sumpah akan segera dimulai, mohon untuk segera merapat dan memasuki masjid dan bagi para petugas yang berwenang atas prosesi sumpah ini diharap juga segera merapat ke depan podium”.

Kakiku tak bisa digerakkan untuk mendekat. Lalu lalang orang semakin meyesakkanku dalam ketidakberdayaan. Dan aku juga tertegun melihat ketika ternyata tidak hanya masyarakat saja yang menghadiri akan tetapi tubuh-tubuh yang seragam loreng-loreng dan polos. TNI dari Koramil dan Polisi dari Polsek juga ada di tengah kerumunan orang yang semuanya terpaku.

Aku kembali menata tatapanku ke kerumunan Bu Naimah. Masih tak kudapatkan wajah penuh rasa takut dan khawatir. Bu Naimah sesungguhnya hanya ikut-ikutan untuk juga melakukan sumpah agar di kemudian hari tidak terjadi apa-apa lagi. Mungkin itu yang menyebabkan Bu Naimah begitu tegar dan wajahnya berlumuran sinar matahari. Tak akan ada yang menyangka bahwa Bu Naimah juga akan melakukan sumpah karena yang orang-orang ketahui hanya Bapak Mistar yang akan melakukan sumpah.

“Apakah Bapak Mistar dan Bu Naimah sudah siap?” Kalimat tanya itu membangunkan hayalku. Dan orang-orang di sekelilingku bertanya-tanya tak percaya, karena Bu Naimah juga disebutkan dalam acara sumpah. Ternyata apa yang aku hayalkan benar-benar terjadi. Suasana semakin tak menentu. Air mata kembali membanjiri halaman dan seluruh pekarangan masjid setelah nama Bu Naimah disebutkan.

“Apakah dari pihak penuduh juga telah siap?”

Mata orang-orang semakin berkeliaran saling rebut merebut mencari tahu siapa sesungguhnya yang telah melakukan penuduhan dan sehingga terjadi peristiwa itu. Suara tanya berkelebat ke mana-mana mencari jawaban sendiri, siapa?

Tidak tahu apa yang terjadi kemudian loudspeaker itu tak lagi bersuara dan semua orang hanya gelisah. Aku merasakan ada yang lain. Adakah sesuatu terjadi di dalam masjid? Atau apa?

Kembali mataku tertusuk ke Bu Naimah yang masih dengan ketenangannya menunggu panggilan. Tapi yang ditunggu-tunggu tak juga datang. Tiba-tiba, “Dari pihak penuduh ternyata tidak datang, Bu. Gimana ini? Apakah masih akan dilanjutkan sumpah atau kita gagalkan saja karena ketidakhadirannya sudah jelas-jelas sebagai jawaban bahwa dia telah mencabut tuduhannya?” Seorang dari pihak keluarga berkata kepada Bu Naimah.

Terlihat Bu Naimah tetap tak terlalu banyak reaksi mendengar berita itu, wajahnya masih dipenuhi sinar matahari. Dari bibirnya yang basah kemudian muncul kata-kata seorang yang benar-benar tabah dan sampai sulit aku menggambarkan semuanya hanya dengan kata-kata.

“Jangan sampai digagalkan acara sumpah ini. Mari tetap teruskan dan saya tetap akan bersumpah demi tidak ada kesalahpahaman lagi dan ini juga sebagai penebusan nama baik sekeluarga.”

Tak ada yang berami membantah kata-kata itu. Dan penyampai berita itu langsung kembali ke dalam masjid.

Kegaduhan orang-orang yang kecewa yang dari tadi menunggu menambah suasana semakin mempertegas dan memperkokoh pihak keluarga Pak Mistar dan Bu Naimah sebagai keluarga yang tak bersalah. Dan peristiwa itu hanyalah fitnah. Fitnah murahan dari orang-oarng yang dengki kepada keberhasilan Pak Mistar dan keluarga.

“Mari Ibu, saya antar.” Bersamaan dengan suara itu langsung orang-orang beriringan mengantar Bu Naimah masuk ke dalam masjid. Semua kegaduhan dari kekecewaan masyarakat terhenti. Seketika mereka tertegun melihat keperkasaan Bu Naimah yang sedang berjalan. Mata-mata yang dari tadi memerah dan berlinang air mata tiba-tiba memutih dan seolah tak sedang terajadi apa-apa.

Aku tetap saja hanya mematung karena aku tetap tak dapat membayangkan bahwa peristiwa ini hanya akan sampai berahir di sini.

Dan setelah beberapa detik kemudian orang-orang yang beriringan kembali terlihat dan terlihat tambah banyak dan banyak. Orang-orang semua menggiring Pak Mistar dan Naimah sampai ke rumah karena kebetulan rumah Pak Mistar tepat di sebelah selatan masjid. Dan orang-orang kemudian menikmati suguhan yang disediakan pihak keluarga. Ternyata prosesi sumpah telah usai. Sungguh aku tak tahu pasti yang terjadi.

Aku hanya terheran-heran tentang peristiwa ini. Peristiwa ini mengingatkan aku pada saat pemilihan kepala desa. Yang menang akan digiring sampai rumah kemudian para penggiring semuanya berpesta menikmati kemenangan. Apakah ini juga kemenangan bagi Pak Mistar dan keluarga? Mungkin hanya Tuhan yang bisa menjawab dan sejarah.

Dan persis seperti habis menang pemilihan kepala desa. Orang-orang berjabat tangan satu per satu dan kemudian pamit pergi. Setelah selesai makan-makan. Semua pergi. Pulang ke rumah masing-masing. Tak ada yang tersisa dari mereka hanya beberapa dari keluarga saja yang masih asik berbincang-bincang. Entah apa yang mereka perbincangkan. Aku tak sadar karena masih masih banyak yang tertinggal di kepalaku.

Aku mengikuti kerumunan orang-orang berbarengan pulang sambil membawa beribu keanehan yang sulit aku mengerti apalagi aku pahami.

 

-Catatan: Cerpen Abdul Khafi Syatra ini pernah dipublikasikan di Radar Madura di tahun 2008 dan kembali dipublikasikan di Jurnal Nasional pada tahun 2009.

4 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini