Sajak-sajak Abdul Khafi Syatra

0
115
Ilustrasi: Lukisan Abstrak Dario Campanile

karena dirimu adalah sepi

 

salahkah ketika bayang-bayang itu datang

kubiarkan liar?

kemudian kuhempaskan pada karang

mengakar

karena dirimu adalah malam

sunyi aku

karena dirimu adalah sepi

tak kuasa aku

dan kubiarkan melebur bersama debur ombak

 

2008

 

hujan telah tiba

 

musim hujan telah tiba

pohon-pohon kembali meranggas memedati dunia pikirannku

bau tanah menjadi parfum alami

pada mereka yang dibawah jembatan

atau mereka yang dilantai keramik

bahkan angin membuat dunia terlelap

kita tinggalkan bersama sampai tak tersisa bau kemarau

hanya mungkin bekas luka memar

pada lapat-lapat hujan yang bisa kita tangkap

sebagai kenangan

kita tinggalkan tandus di atas cangkul

dan timba kita kembalikan kebarak

apa yang hendak kita nanti dimusim ini?

sebuah musim yang basah

hari yang becek

alam selalu gelap

dan cucian-cucian kita berbau amis

apa yang kita banggakan dengan musim ini?

musim yang sudah biasa

rumah-rumah tenggelam

ribuan jiwa terlantar

apa yang bisa kita kembalikan?

alam telah mampet dengan sampah

rumah-rumah berbau busuk

mungkinkah semuanya kita tusukkan pada langit yang diam

pada kemungkinan yang patah

atau kita biarkan saja tenggelam dengan nasipnya sendiri?

 

2008

 

 

kau telanjang di balik kata-kata

 

– Andes

 

suara desir lirih kau menangis

kian keras menghantam dadaku

 

sesak— begitu sesak aku merasakan

hadirnya

 

gemericik air matamu

terasa begitu keras menekan jenyut nadiku

 

tak sampai tanganku berirama di kedua matamu

karena kau terlalu jauh

 

kabar yang kutanya

tak mampu kau jawab sempurna

hanya patahan nafasmu kuberi makna

 

angin lewat dari jenjela

berdengung memecahkan kacamata masa laluku

 

kemudian kepalaku terbenam

pada tumpukan persoalan yang nyata-nyata membuatmu sakit

 

kata-kata itu mengelupas dari dinding kamarku

hingga aku hanya bisa mengantarkanmu

sampai dipersimpangan

lalu kubiarkan kau liar

menjadi gelandangan kesakitan

 

2008

 

Ah

 

di tepi bibirmu

rindu bergelantungan

 

2008

 

catatan hari

 

di hari pertama;

 

dengan kalimat sunyi kau tusuk aku

hingga dinding hatiku retak

berdarah

menyumbat pikiran hingga tersesat

 

di hari kedua;

 

kau hanya diam

dengan seribu kebisuan

 

aku masih tersesat

dan tak menyangka dapat menemuimu

berpangku kata

 

di hari ketiga;

 

wajahmu tak lagi tampak

namun bekasnya masih membayangiku

 

kemudian kutulis kembali kalimat sunyi itu

pada jarum jam

untuk menggilingnya menjadi kenangan

 

di hari keempat;

 

detik paling sempurna aku sendiri

tak kusangka

kalimat sunyi itu menikamku lebih keras

 

2008

 

 

-Catatan: Sajak-sajak Abdul Khafi Syatra selain dibukukan melalui Antologi Puisi Bersama “Kampung Dalam Diri (Temu Penyair Lima Kota 2008)) juga sudah dipublikasikan di Koran Cetak Harian Suara Pembaruan dan Majalah Gong.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini