Sajak-sajak Abdul Khafi Syatra

0
159
Ilustrasi: Dario-Campanile-Processo-Della-Vita

Nafila, kekasih malam

malam telah tengkurap di bawah halus tanganmu

dan bulan kau telan menjelma wajah hakiki

dari semua kegembiraan manusia

sepanjang masa, selamanya.

ketika orang orang sedang melewati jenak-jenak kebimbangan

yang terbentang jauh sampai melampaui tapal batas

yang mungkin di capai sepelontaran batu anak anak

di kelilingmu.

mereka tidak pernah membayangkan bahwa dari titik itu

mereka kelak akan kehilangan beberapa huruf

dari abjad keyakinannya di tengah gumpalan lahar

kata panas dan bara perasaan yang menyalanyala

tubuhnya akan terbakar.

hangus kelam bersama segala mimpi.

 

Januari 2007

 

sepotong malam

sepotong malam mengelinding

dan merayap di tubuhmuhingga ke puncak keheningan.

dan kau genggam ketika

larut sampai tangantanganmu membeku.

sepotong malam adalah kado pengantinmu

yang kau selipkan

di balik jendela sewaktu kau tangkap

wajah gemintang dengan bercakbercak

air matamu.

 

Januari 2007

 

esok untuk siapa

jika pertanyaan itu datang.

terbakarlah segala kenang.

jilatan apinya menusuk sukma.

esok untuk siapa untukku. untuk suara

atau tidak untuk siapasiapa?

kemelut datang bersamasama.

yang selalu hinggap di atas bongkahan

batubatu hitam yang tertancap

di ubunubunku.

aku dan pertanyaan itu lindap.

 

Januari 2007

 

telaga mimpi

kupandangi matahari hingga senja.

bersama usiaku yang belum usai

meski matahari telah tenggelam

dan setia kutunggu separuhnya menjelma fajar

pada perjalanan malam menunggu siang.

aku berbekal selimut api

membakar semak belukar yang menghadang

di tengah padang.

inilah kepergianku yang pertama.

tergambar padangpadang.

di kesendirian menatap masa depan.

o ibunda tersayang

anakmu ketinggalan siang dan pergi kesepian

hanya kata manismu saja

yang tenggelam ditelaga mimpinya

 

Januari 2007

 

tanpa mata

di tengah lebat hutanhutan kata.

kudapatkan bara

yang mengepul asap. menghadangku

keluar dari semakbelukar

yang durinya menusuk hingga berdarah

mengalir jadi sungai di tengahtengah

rawa kegelisahan yang akut.

warnanya kulihat hitam legam.

jalanku tanpa kaki. mataku pekat.

perutku membusung.

kepalaku terpotong. jalanan tanpa tapak.

 

Januari 2007

 

cekung matamu

di bawah cekung matamu terlihat danau terbentang.

airnya mangalir ke sudut waktu

tenggelam bersama matahari.

hadir warna merah senja hariharimu

di antara rimbun sampah dan kematian.

 

Januari 2007

 

pengungsian

mata rantai malam melalap

tubuhmu di kesunyian.

melilit dari datar jalanjalan aspal

sampai pada batubatu tanggul

tanpa air. tanpa api.

tanpa sehembus janji hinggap di telinga.

tanpa kemesraan dengan malam.

tanpa kehangatan dan kepanasan pada siang.

hingga tenggorokanmu melebur

jadi suara pada mikrofon.

 

Januari 2007

 

Catatan: Sajak-sajak Abdul Khafi Syatra ini sudah pernah dipublikasikan di Koran Suara Karya pada Sabtu, 9 Februari 2008.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini