Sajak Abdul Khafi Syatra

0
81
Ilustrasi: Gambar Istimewa

sajak pembebasan

 

di penghujung jalan

kulihat matahari menggeliat cemas

tanah-tanah kosong dari penghuni

sungai kering selokan kerontang

tanggul-tanggul menipis

sawah gersang dan alam mulai menepi.

 

takut bercakap-cakap lagi

dengan kunang-kunang yang biasa menghampiri setiap penghujan datang

penghujan tak pernah lagi hinggap walau sebentar

seolah angkuh dan menantangku berkelahi.

 

bumi tak seramah dulu sama angkuhnya seperti hujan

yang tak menyisakan lembab.

 

Kunang-kunang berguguran dan akupun kehabisan

tenaga

menebaskan sajak-sajakku

ujungnya mulai patah dan tak sanggup lagi

kutusukkan ke dada-Mu

dan kilatannya juga pudar tak setajam sinar matahari walau terhalang awan

 

Januari 2007

 

karena

 

: malam telah larut

karena malam telah larut seiring bunyi gamelan

yang lindap di kesunyian.

 

aku pun segera pergi bersama rindu yang menari-nari

di ranting cemara. meliuk ke kanan dan ke kiri

mengikuti hembusan angin malam

yang dinginnya mulai menusuk.

 

napasku terbata-bata selaksa bunyi gesekan ranting

cemara itu

yang mulai tak tampak. hanya bunyi –

yet, yet, yet- yang mampu kutangkap

lalu kubawa pulang sebagai saksi ketakutan

dan rinding tubuhku.

 

akhirnya aku sampai di depan rumah gulita

aku pun mengetuk pintu. berbisik lirih.

kucoba tak henti-henti. “mungkin larut malam

membawa mimpi” dalam benakku.

 

tapi tetap saja tak ada suara menghampiri.

sementara napasku masih saja naik turun

bergemuruh seperti gelombang.

 

sampai aku letih dan tak tahu lagi apa yang terjadi.

 

Januari 2007

 

jawaban

 

pada: ibu

di telaga ibu kubasuh muka lesu

kusut berdebu

yang sejuknya selalu saja tak menyisakan

waktu berlalu

 

kepada: ibu

semusim tak tentu.

datang. itupun kadang-kadang.

 

kepada: ibu

jawabannya selalu itu-itu.

 

Januari 2007

 

bulan tanpa rindu

 

bulan tanpa rindu tergantung di pohon-pohon

dengan isak tangis berderu memecah lolongan anjing

di saat aku mulai ragu akan debu-debu, sepercik air

dan kuburan-kuburan di samping rumahku

yang memanjang membelah tapak jalan pinggir sungai tanpa perahu-

dan sinarnya mulai tertutup oleh perselingkuhan

dedaunan dengan debu-debu.

 

bulan itu tak lagi indah seperti dulu

karena sinarnya tak mampu mendekapku

bulan tanpa rindu membelah malam di kesunyian.

 

Januari 2007

 

di gang buntu

 

sampai di gang buntu burung-burung tersekap

dan kaku

kepaknya tak lagi bergemuruh. seiring angin

yang hembusnya

sampai ke hulu.

 

dan ocehannya tak lagi lantang menembus

gendang telingaku-

aku mulai lusuh sesampainya di deretan

orang-orang yang asik bercumbu.

 

inikah pilihan bagiku- di deretan paling belakang

aku menelusup di bawah paha orang-orang bisu sampai kutangkap

leher burung-burung itu- lalu kulempar lepas.

 

kuhempas sampai ke hulu.

gang buntu

 

Januari 2007

 

di persinggahan

 

di persinggahan. ku sandarkan bidukku

pada jangkar yang melilit ke dasar laut-

kuteduhkan badanku di bawah pelabuhan-

lalu kupijakkan kakiku di atas jembatan baja yang memanjang

menuju daratan-

kulihat orang-orang sibuk dengan tatapannya.

 

ada yang kebingungan menunggu tongkang tak kunjung datang

karena mereka terhimpit waktu.

 

dan aku belum bisa berbuat apa-apa melihatnya-

di persinggahan ini aku berharap bertemu orang-orang yang kukenal

tapi tak satupun kujumpa -semua masih asing- aku pun terasing

hingga rasanya tak kuasa melangkah lagi.

 

kakiku terlalu rekat dengan aspal yang melekat dibibir jalan

hingga aku terasa lelah dan harus berhenti sampai di sini.

tapi aku masih saja memaksa. sambil memikul kakiku.

 

aku terus saja -sampai aku tak tahu lagi.

 

Januari 2007

 

-Catatan: Sajak-sajak Abdul Khafi Syatra ini pernah dipublikasikan di Koran Cetak Harian Suara Pembaharuan pada 21 Januari 2007.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini