Bahaya ‘Devide et Impera’ di Tahun Politik

0
111
Gambar Istimewa

Aksi penyerangan Gereja Lidwina di Bedog, Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta menuai banyak pandangan dan pendapat hingga spekulasi dari penjuru negeri bahkan dunia internasional. Rata-rata mengerucut pada soal ‘intoleransi’ dan ‘terorisme’.

Pandangan dan pendapat itu jauh mendahului pernyataan resmi dari pihak berwajib yang masih terus melakukan penyelidikan intensif untuk mengetahui motif pelaku.

Pertama menurut saya, teror yang sesungguhnya prasangka kita. Dimulai dari pikiran kita yang liar,  mengait-ngaitkan pada hal-hal/ kejadian lain. Itu lah target pelaku. Membumingkan ‘prasangka’ untuk menggaduhkan psikologi masyarakat.

Ingat! Pilkada serentak beberapa bulan lagi. Ingat! Pilpres tidak lama lagi. Bahkan yang mau maju jadi presiden ataupun wakil presiden sudah pasang spanduk/ baliho hingga pelosok negeri. Kampanye kemana-mana, sudah jadi rutinitas baru. Ini objek kedua.

Target pelaku sebenarnya sudah berhasil. Kenapa? Buktinya saya juga turut berprasangka, menduga-duga bahkan ‘berani’ berpendapat.

Ini ‘terorisme’ bukan ‘intoleransi’ menurut saya, karena tidak dilakukan secara ‘berjemaah’ dan tidak menggunakan alat kekuasaan. Indikasi paling mungkin adalah pelaku berani ‘mati’.

DIY kota toleran yang pernah saya tahu dan alami. Banyak suku dan agama bergandengan indah di sana. Kecuali aliran ‘fundamentalisme’ yang sering dapat ‘perlawanan’. Ini pengalaman saya di dunia kampus UIN Sunan Kalijaga. Atas nama ‘musuh bersama’, aliran ‘fundamentalisme’ mencoba diminimalisir dan ‘dilokalisir’ secara bersama-sama oleh lintas ‘bendera’ agar tidak menyebar luas. Keras saya katakan, sangat mengancam. Terutama yang jelas-jelas berafiliasi pada ‘Partai Pembebasan Indonesia’. Ini objek ketiga.

Tahun politik, menargetkan saling curiga satu sama lain. Skeptis satu kelompok dengan kolompok lain. Tidak lain ada upaya adu domba (Devide et Impera). Ada ‘politik adu domba’ sebagai targetnya adalah ‘pengecilan’ dari kelompok besar hingga kerusuhan. Hat-hati!

Ini bisa jadi renungan kita semua. Jangan jadi tim penilai semua agar suasana tidak keruh. Jadilah membaca dan pendengar yang baik dan sabar. Saya masih yakin DIY kota toleran. Walaupun pasti ada upaya-upaya untuk ‘menghilangkannya’. Kendati saya yalin akan sulit berhasil sepanjang nalar dan hati masyarakat DIY masih berfungsi secara baik seperti saat ini.

Ingat satu lagi. Ini hanya basabasi saya jangan terlalu dianggap serius.  Apabila ada yang menggelitik, mari diskusi dengan kepala dingin dan sambil minum kopi. ***

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini