Idul Fitri di Tanah Rejang [Part 1]

0
50
Hukum Rejang
Gambar: id.m.wikipedia.org

Basa hujan belum kering dari permukaan bumi. Gumpalan demi gumpalan air di dedaunan masih menunggu giliran untuk jatuh. Aku mematikan mesin. Istri keluar mobil dengan riang.


“Kita lebaran pertama di kampung halaman, mas,” ujarnya sambil melepas senyum kebahagiaan.

Di perjalanan istriku tidak henti-hentinya berucap, “Ini lebaran pertama aku bersama suami dan calon bayi.”

Walaupun kami sudah nikah sejak tanggal 22 bulan puasa tahun lalu. Lebaran waktu itu kami lewatkan masing-masing. Aku di Madura, sementara istri di Aur Gading.

Tentu sangat berbeda dengan tahun ini. Umur kandungan istri sudah masuk 7 bulan. Sebentar lagi kami menimang anak. Anak pertama sebagai titipan Tuhan pada kami untuk dididik jadi penebar kebajikan di muka bumi.

“Pulang nak?” sapa ibu mertua. Kebiasaan yang tiap kali terdengar jika kami pulang kampung. Bukan hanya mertua, hampir seluruh keluarga atau masyarakat di desa kami, Aur Gading seperti itu. Bukan hanya pada kami sapaan itu. Berlaku pada siapapun yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri.

Aur Gading, desa tua di Bengkulu Utara yang masyarakatnya berasal dari suka Rejang. Suku tertua di provinsi Bengkulu. Entah dari mana asalnya mereka membangun desa di ‘pedalaman’ dengan hanya memiliki satu jalan utama. Unik.

Jika dibaca dari konsep desa yang dibangun, masyarakat Aur Gading mula-mula masyarakat yang sangat tertutup (eksklusif). Ternyata dugaanku tidak meleset.

“Dulu, jika ada orang luar masuk Aur Gading biasanya ‘dihakimi’ oleh masyarakat,” kisah istri suatu waktu.

Betul. Karakter tertutup hanya bagi orang luar. Sementara di dalam mereka sangat kekeluargaan. Sepertinya mereka terbentuk dalam satu keluarga besar dari asal usulnya.

Desa Aur Gading yang sumber irigasinya dari sungai, tampak sangat subur. Kendati masyarakatnya biasa-biasa saja. Desa ini terbagi atas tiga bagian. Ada dusun atas, dusun tengah, dan dusun bawah.

Setelah kami duduk, langsung pertanyaan soal pekerjaan dari bapak mertua menyambar. “Pekerjaanmu bagaimana?”

“Baik bapak,” jawabku singkat.

Kami terdiam dan saling beradu pandang. Ya. Aku mengerti maksud pertanyaan bapak mertua. Beberapa hari sebelumnya sempat terjadi musibah besar yang menimpa istri Gubernur Bengkulu, sekaligus menyeret Gubernur Ridwan Mukti.

“Semua berjalan lancar pak. Tidak ada kendala yang berarti,” tegasku.

“Oh. Bagus lah kalau begitu,” respon bapak.

Bapak mertuku kental dalam bahasa Rejang, sehingga mahasa Indonesia kurang fasih. Sementara aku sama sekali tidak paham bahasa Rejang. Ini kadang jadi kendalaku dalam berkomunikasi. Diam, senyum, dan ikut tertawa jika ada yang tertawa jadi kebiasaan buruk mesti tidak paham pada konteks pembicaraan.

Kadang aku merasa ‘tidak nyaman’ sendiri takut dianggap sombong karena bisanya hanya diam atau mengangguk saja. Padahal ingin sekali bertukar pikiran.

Istriku enam bersaudara. Semua perempuan. Istriku yang paling buntut alias bungsu. Jika di dusun ia dipanggil bungsu. Begitu juga dengan bapak dan ibu mertua memanggilnya.

Kami punya saudara dekat dari bapak. Rumahnya bersebelahan tepat. Namanya pak Wo. Entah nama lengkapnya siapa aku tidak pernah bertanya. Pengetahuannya sangat luas. Ia salah satu pengurus masjid di kampung kami.

Jika kami datang, ia pasti ke rumah mengajak diskusi. Walaupun usianya sudah di atas 70 tahun, ingatan dan nalarnya masih sangat baik. Kadang malu dibuatnya.

“Kapan kita lebaran pak,” tanyaku pada mertua menghidupkan suasana.

“Sepertinya besok. Tapi kita tunggu hasil sidang isbat menteri agama dulu,” jawabnya meyakinkan.

Ponakan-ponakan sudah mulai berkumpul. Istri dan saudara yang lain menyiapkan buka puasa bersama. Ada yang kami tunggu. Namun kabarnya saudara kami yang di Arga Makmur baru bisa bergabung esok hari selepas sholat Ied.

Kami tidak lengkap. Tapi tetap hikmat buka puasa terakhir dengan diiringi doa terlebih dahulu. Bukan hanya doa masuk buka puasa saja. Tapi kami tawassulan terlebih dahulu. Bapak mertua yang memimpin doa.

Tradisi keluarga kami tidak lepas dari tawassulan tiap momen yang dianggap penting bagi mereka. Sepertinya kebiasaan ini sudah turun temurun dari nenek moyang suku Rejang di Desa Aur Gading.

Tentu aku bertanya-tanya karena amaliah serta nilai-nilai religiusitas masyarakat Aur Gading masih sangat kental. Bahkan masyarakat Aur Gading sangat konsisten dalam menjaga lokalitas seperti adat budaya leluhur mereka.

Kami berdoa hampir kurang lebih setengah jam. Tangan sampai pegal. Tradisi doa ditutup dengan doa. Aku baru temukan ini di suku Rejang. Di Madura walaupun terbilang agamis, dalam memanjatkan doa pasti hanya satu kali. Tidak ada doa ditutup dengan doa. Tapi ini baik. Lebih kuat esensi doanya.

Darimana sebenarnya asal usul suku Rejang ini. Aku ingin tahu kenapa kekeluargaannya sangat kental dan agamis. Walaupun di generasi saat ini sudah mulai ditinggalkan. Sayang sekali.

Kami mengheningkan cipta sambil menunggu azhan maghrib tiba. Aroma opor ayam dan sambel jengkol terus-terusan mengganggu iman. Aku tidak suka jengkol, tapi opor ayamnya sangat menggoda.

Tik…tik…tik…jarum jam terus bergerak menuju waktu buka puasa. Namun berbeda hari ini dengan kemarin. Terasa lebih lama. Mungkin karena pikiran dan selera sudah ‘menyantap’ opor ayam sehingga terasa waktu tertahan lebih lama.

Di luar pintu, basah tanah yang belum kering dan gumpalan-gumpalan air di atas daun kembali menuai gerimis. Tidak mau kalah bergerak lebih lambat dari jarum jam.

Waktu kemenangan akhirnya tiba. 1 Syawal ditetapkan tanggal 25 Juni 2017. Ya. Sudah pasti, aku bersama keluarga Idul Fitri di tanah Rejang. [1]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan masukkan komentar anda!
Silahkan masukkan nama anda disini